Ringkasan Buku Cara Simpel Berinvestasi di Pasar Modal Volume I (Blog)
Ringkasan Buku Cara Simpel Berinvestasi di Pasar Modal
Volume I (Blog)
Penulis : Joeliardi Sunendar
Satu persamaan yang dapat dilihat dari daftar orang super
kaya adalah mereka pemilik dan pemegang saham dari perusahaan-perusahaan yang
sukses dan berkembang. Salah satu cara menjadi pemegang saham yaitu melalui
pasar modal. Dengan cara pandang seperti ini maka perhatian kita akan diarahkan
hanya pada perusahaan- perusahaan yang baik saja dari banyaknya perusahaan di
pasar modal.
Melalui buku Cara Simpel Berinvestasi di Pasar Modal ini, Pak Joeliardi ingin supaya investor dapat
memanfaatkan peluang yang ditawarkan pasar modal ketika terjadi disparitas
harga di pasar modal.
Selanjutnya di reviu ini aku akan membahas poin-poin yang paling penting dari sudut pandangku sebagai pembaca. Sebenarnya banyak insight yang menarik di buku ini tetapi aku akan bahas 3 poin besar saja ya teman-teman. 3 poin itu adalah the buffet way, dry powder, dan trailing stop. Selain itu, di bawah aku akan berikan catatan singkat beberapa hal yang tidak kalah menarik dari buku CSBPM Vol. I ini.
1.
The Buffet Way
The buffet way di sini tentunya diambil dari nama salah satu investor
saham yang sangat menginspirasi yaitu Warren Buffet. Di dalam buku ini
dijelaskan bahwa ada 3 prinsip investasi agar bisa sukses di pasar modal,
tentunya dengan cara yang simpel, sesuai dengan judul buku ini.
Tiga prinsip investasi the buffet way tersebut adalah
a.
Memilih perusahaan berkinerja baik
b.
Membeli di harga wajar
c.
Menjadikan waktu sebagai teman
Mari kita bahas satu per satu
ketiga prinsip tersebut.
I.
Prinsip pertama the buffet way, memilih
perusahaan berkinerja baik.
Dalam memilih perusahaan yang berkinerja baik, terdapat beberapa kriteria
antara lain.
i.
Perusahaan memiliki economic moat yaitu tidak
mudah perusahaan lain mengambil pangsa pasar perusahaan bersangkutan sehingga
kelangsungan hidup perusahaan bisa terjaga, contohnya Jasa Marga, Indofood,
BRI, dan BCA.
ii.
Perusahaan memiliki pertumbuhan penjualan atau
sales growth minimal 5%. Semakin tinggi sales growth semakin baik.
iii.
Return on equity (ROE) minimal 15%. Mengapa 15%?
Karena jika terlalu kecil ROEnya sebaiknya investasi di deposito saja, yang
jelas aman dan terjamin.
iv.
Melihat Cashflow From Operation (CFO)
perusahaan. Kita dapat memilih perusahaan yang tidak memerlukan tambahan modal
belanja (Capital Expenditure atau Capex) yang besar untuk mempertahankan
kegiatan usahanya. Perusahaan semacam ini disebut sebagai Capital Efficient
Company (CEC). Untuk dapat menemukan perusahaan yang memiliki CEC bisa dimulai
dari melihat CFO atau uang tunai yang dihasilkan dari kegiatan operasinya.
v.
Melihat nilai buku atau book value perusahaan.
Perusahaan yang secara konsisten menunjukkan peningkatan nilai buku per
sahamnya memberi isyarat terjadinya pemupukan kekayaan yang diperoleh dari
hasil usaha perusahaan.
II.
Membeli saham perusahaan di harga wajar
Salah satu indikator untuk membeli saham perusahaan yaitu melalui Price
to Earning Ratio (PER). Jangan membeli perusahaan yang memiliki PER terlalu
tinggi misalnya 71x.
Pilih perusahaan yang terbukti memiliki keuggulan kompetitif dan kita
dapat memprediksi kinerjanya di 10 sampai 15 tahun mendatang. Saat ada
perusahaan seperti itu dan pasar memberi kesempatan untuk membelinya dengan
harga rendah, manfaatkanlah.
Di luar buku ini, saya pernah membaca nasihat yang diberikan oleh Charlie
Munger kepada Warren Buffet yang isinya kurang lebih seperti ini, "daripada
membeli perusahaan yang belum tentu baik di harga murah, yang bisa jadi saham
tersebut merupakan saham perusahaan yang buruk, lebih baik fokus untuk membeli
saham perusahaan yang baik di harga wajar".
III.
Menjadikan waktu sebagai teman
Sebuah study menunjukkan bahwa semakin lama kita berinvestasi di pasar
modal (timeframe investasi semakin lama) maka risiko semakin kecil. Sebetulnya
tanpa statistik, dengan mudah kita juga melihat indeks berbagai bursa di dunia,
dalam jangka panjang bergerak ke atas.
2.
Dry Powder
Pasar sering mengajarkan bahwa bukan saja kita perlu memilih perusahaan
yang baik tetapi juga harus siap dengan dry powder apabila pasar menawarkan
peluang yang baik. Dry powder bisa dalam bentuk kas atau fixed income.
Jika kita selalu fully invested setiap saat dalam saham, bagaimana
mungkin kita bisa berpartisipasi jika pasar memberi peluang yang baik itu?
Jika menyisihkan dry powder misalnya dalam RDPU atau deposito ada
opportunity cost yang harus kita tanggung, berupa return on investment (ROI)
yang lebih rendah selama dry powder belum dimanfaatkan. Namun gangguan ROI
jangka pendek tersebut tidak lagi memiliki arti ketika kita bisa memanfaatkan
peluang saat saham sedang mabuk. Semua akan terbayar saat harga saham yang
turun di pasar dalam jangka pendek.
3.
Trailing Stop
“Kapan sebaiknya menjual saham?”
Keputusan menjual atau menahan saham milik kita bukan soal yang mudah.
Jika harga saham naik, “oh jangan-jangan harganya akan terus naik, jadi
sebaiknya jangan dijual dulu deh. Tapi kalau tidak dijual sekarang, takutnya
harga turun lagi, jual saja kan sudah naik 10-15%”.
Mengapa investor lebih cenderung untuk bisa cepat-cepat menjual sahamnya
yang memberikan keuntungan dan sebaliknya menahan terus saham yang menunjukkan
kerugian dalam investasinya?
Hal ini mungkin dijelaskan dengan ilmu psikologi. Ada masalah pride,
yaitu manusia cenderung tidak mudah mengakui jika ia melakukan kesalahan.
Untuk dapat secara disiplin mengabaikan pertimbangan emosional bisa
menggunakan prinsip stop loss dan trailing stop.
Jadi, berdasarkan buku ini, 30% stop loss diterapkan untuk setiap saham
yang dibeli. Dengan jumlah portofolio sebanyak 30 saham dan dana yang
dialokasikan masing-masing 3% maka jika ada yang terkena stop loss, hal itu
hanya akan memengaruhi portofolio sebesar 1% (30% kali 3%).
Trailing
stop dilakukan ketika harga sudah naik lalu kita menerapkan trailing stop dari
harga tertinggi yang dicapai. Di buku ini, angka trailing stop yang disarankan
di angka 15% dari closing price tertinggi.
Catatan lainnya:
- PER sektor keuangan yang dianggap wajar sekitar 10 kali
- Komposisi portofolio dibagi menjadi 2 yaitu Core Stock dan Non-core Stock. Core Stock merupakan saham yang dipegang selamanya, sedangkan non-core stock merupakan saham yang menyesuaikan Mr. Market.
- Pertimbangkan investasi di US Stock untuk antisipasi merosotnya nilai tukar Rp terhadap USD.

Posting Komentar untuk "Ringkasan Buku Cara Simpel Berinvestasi di Pasar Modal Volume I (Blog)"